Pagi ini sebenarnya bingung mau
nulis apa. Ketiadaan ide adalah hal buruk bagiku mengingat tidak semua yang ku
alami bisa dituangkan begitu saja dalam bentuk tulisan. Ya seperti yang kalian
tau dan sering ku koar-koarkan bahwa aku
bukan seorang penulis. Tapi mengikuti program ODOP ini adalah bukti
kesungguhanku agar bisa menulis, dengan harapan setidaknya ada jejak yang bisa
kutinggalkan agar di ambil manfaatnya jikapun ada. Bila tidak, ada saja yang
mau baca tulisanku alhamdulillah. Terlepas itu bermanfaat baginya atau tidak.
Jumat, 26 Januari 2018
Kamis, 25 Januari 2018
Terima Kasih, Murabbiku (part 1)
Jika aku adalah seorang yang
puitis yang sekejap mata melahirkan kata maka kupastikan tiap hari puisiku tercipta untukmu. Jika aku adalah
seorang penulis yang gampang meliuk-liukkan jemari di atas keyboard maka tak
berbilang berapa banyak tulisan yang ku persembahkan untukmu. Jika saja.
25 tahun mengembara di bumi yang
penuh dengan dugaan ini, menjadi bagian dari salah satu generasi tertarbiyah
adalah kesyukuran yang tak terhingga. Bukan, bukan aku merasa lebih baik dari
siapapun. Aku bersyukur Allah berkenan memberikanku teman-teman yang senantiasa
mengingatkan dalam kebaikan. Tanpa memandang “aku” di wajah masa lalu, mereka menerima
segalaku apa adanya. Sungguh ini adalah kesyukuran terhebatku.
Rabu, 24 Januari 2018
Hujan 24 Januari
Dentang jam di dinding
menunjukkan pukul 09.05. Pagi merangkak pergi perlahan. Sendu yang dihadirkan seperti
memaksa menunda kedatangan mentari yang ingin menyapa. Langit tidak terlalu
gelap, namun semilir angin yang dihadirkan seperti mengajak hujan agar menemaninya.
8 menit berselang, genteng mulai
terdengar berirama. Agaknya hujan mempercepat kedatangannya kali ini. Meleset dari
perkiraanku yang semula kutaksir 30 menit lagi.
Pagi yang sendu dikawani hujan. Ah, pagi ini sempurna dengan balutan selimut dan sekeping buku di tangan. Sungguh syahdu, sayangnya kondisi itu hanya ada di anganku. Realita membawaku pada situasi yang membuatku malas pagi ini. Kerja, kerja dan kerja.
Pagi yang sendu dikawani hujan. Ah, pagi ini sempurna dengan balutan selimut dan sekeping buku di tangan. Sungguh syahdu, sayangnya kondisi itu hanya ada di anganku. Realita membawaku pada situasi yang membuatku malas pagi ini. Kerja, kerja dan kerja.
Selasa, 23 Januari 2018
Generasi 90-an
Sesuatu yang telah tertinggal
terlalu lama akan sangat mengasyikkan untuk di ulas kembali dalam masa yang
berbeda. Begitu yang ku dapati siang kemaren. Menu makan siang waktu itu, “belut
goreng” berhasil membuat kami cekikikan tiap kali salah seorang dari kita mulai
bercerita tentang masa kecilnya. Kami adalah generasi 90an, jika kalian merasa
segenerasi, boleh ikut koment dibawah keseruan-keseruan kalian yang tak kami
dapati. Seru parah ! LOL
Berikut kenangan-kenangan kami yang tertinggal di tahun 90an
yang tidak pernah kami temui di kids jaman now
- Tangkap Belut
Senin, 22 Januari 2018
Tentang Masa Terbaik dalam Hidupku
Mendung sepertinya tak ingin
bertahan lebih lama pagi ini, meski masih malu-malu kuyakin mentari akan sempurna
menampakkann wujudnya walau barangkali butuh jeda. Aku dengan pagi yang
kesekian kalinya masih berkutat dengan hal itu-itu saja. Ya, kerjaanku memang gitu-gitu
aja sih. Haha..gaje. Ya seenggaknya
ada yang membuatnya berbeda, hari ini kali pertama aku akan menyelesaikan challenge yang diberikan di grup ODOP. Yang
menjadi awal bagiku untuk konsisten menulis meski harus membunuh ketidakyakinan
dalam diri tentang passion yang sama sekali tak kumiliki. Semoga.
Kenalkan namaku Paramudika Handayani,
panggilan sedari kecil hingga kini adalah Dika. Tentang nama panggilanku,
banyak yang meragukan jika aku adalah seorang cewek. Di beberapa kesempatan
dalam acara baik offline maupun online, jika aku tak menampakkan wujudku atau
memberi tahu dengan sungguh-sungguh bahwa aku adalah seorang cewek maka tak
ayal aku akan dipanggil bang. Begitu setidaknya arti sebuah nama.
Sabtu, 20 Januari 2018
Catatan Diri
Ada lamun yang disengaja saat raga lelah bekerja seharian
Sibuk tak menentu, duduk sendirian entah apa yang
dikerjakan,
bertemu si A, mengobrol dengan si B, beragam hal lain
dilakukan
sampai raga meminta haknya untuk direbahkan
banyak yg berhasil menjadi catatan d buku kenangan
baik, buruk, semua tersimpan di ingatan
Seketika raga tersentak dari lamunnya yang terlalu lama
Seberapa banyak dosa yang dihasilkan saat bercengkrama?
Berapa banyak hati yang tergores karena kata yang tak dijaga?
Berapa banyak waktu terbuang percuma karena gadget yg
menyita?
Semua tanya seperti memojokkan, lidah seketika kelu untuk
sekedar membela
Diri murni seperti seorang tersangka
Berada dihadapan hakim yang meraja
Esok yang masih entah
Berharap ada kebaikan yang bisa di alirkan walau secercah
Paling tidak diri ini bisa berbenah
Tidak mengulang segala yang bejat dan sia-sia
Semoga
#catatandiri
Jumat, 19 Januari 2018
Kita pasti memililih !
Kita selalu dihadapkan pada dua pilihan yang berseberangan
Ketika diberi ujian, ada pilihan untuk bersabar atau tidak.
Keduanya sama, tidak akan mengubah keadaan. Tapi yang bersabar ada nilai pahala
di sisi Allah. Sementara yang satunya lagi tidak.
Ketika menunggu kita pun akan dihadapkan pada pilihan.
Memilih mengoceh tanpa arah karena bosan yang mendera atau mengisi dengan hal
bermaanfaat semisal membaca buku atau tilawah. Keduanya pun sama, tidak akan
mengubah keadaan. Akan tetapi ada nilai yang berbeda jika kita bijak memilih
diantara pilihan yg ada.
Ketika datang waktu sholat, ada yg bergegas, ada yang masih
sibuk dengan urusannya dengan pembenaran-pembenaran yang diciptakan utk dirinya
sendiri,
Langganan:
Postingan (Atom)




