Senin, 26 Februari 2018

Rindu ayah

Garis wajahmu melukiskan lelah
Menapaki dunia yang tanpa arah
Menjawab hari berpeluh darah
Tanpa keluh juga kesah

Kau adalah bukti keagungan Tuhan
Di sosok yang sepuh dimakan zaman
Bertahun-tahun menanggung beban
Siap siaga kapan pun dibutuhkan
Tanpa peduli citamu terkorbankan

Ayah, terima kasih atas segala cinta
Tiada hari tanpa taburan bunga
Dari sikapmu yang senantiasa menjaga
Ayah,maafkan anakmu yang banyak dosa
Membuatmu sedih juga kecewa
Berkali-kali pula terluka

Ada rindu yang subur bertumbuh
Semenjak matamu tak lagi bisa ditatap
Selaksa do’a yang lirih bergema
Semoga Allah sampaikan teruntukmu disana
DijagaNya sampai pada waktu
Dunia ini tidak lagi berarti
Lalu syurga menjadi satu-satunya tempat
Untukmu juga kita sekeluarga

Semoga 

Luka

Dentang jam semakin beringas
Bertalu-talu tanpa peduli
Ada hati yang lelah
Diperdaya waktu
Namun enggan untuk beranjak

Aku adalah saksi
Keberingasan masa lalu
Luka, tercampak
Bukan lagi hal baru
Seperti barang rongsokan
Yang diobral cukup
Dengan beberapa rupiah

Di ujung kesunyian malam
Aku tersadar
Kini korban itu nyata
Ditubuh yang kuhinggapi
Masih terawat sebagaimana awal
Jika saja berbentuk
Akan tampak bernanah

Apa guna merawat luka
Membuatnya menganga lalu berkuasa
Tidak ada maksud merawat luka
Terkadang kita lupa
Ada hati yang tidak baik-baik saja
Saat yang lain berkata
“ah, itu biasa”
Maaf... anda bukan saya

Jumat, 23 Februari 2018

Menit Menjelang Tidur

Pukul 23.12
Sebenarnya saya tidak tahu hendak menulis apa, namun demi komitmen yang dipancangkan diawal setidaknya saya akan menulis apa yang terlintas saja saat ini.  Malam sudah larut, tidak terdengar lagi hiruk pikuk dunia yang sibuk seharian. Hening. Mencekam. Satu dua masih ada sisa kendaraan yang lewat di depan rumah. Entah lupa sekarang jam berapa atau mungkin memang ada keperluan semalam ini. Ah biarlah, apa urusan saya dengannya.

Pikiran ini harus diajak berputar agar tetap ada yang bisa ditulis. Lalu ngestag diBW (Blog Walking), aktivitas lain yang dilakukan di ODOP (One Day One Page). Jalan-jalan di blog tetangga seperti memberi cambukan tepat di ulu hati. Ada banyak tulisan yang mendadak dan tidak dipersiapkan namun tidak alfa dari nilai yang bisa diambil darinya. Sementara saya, berkali-kali nulis gaje namun juga tidak ada nilai yang bisa diaplikasikan dari sana. Menyedihkan.

23.25
Mata ini mulai terasa lelah, berkali-kali membujuk agar tubuh ini direbahkan saja. Dan saya sepertinya sudah berlaku zholim terhadap anggota tubuh belakangan ini. Seperti kata Ust Adi Hidayat dalam salah satu tausyiyahnya, “Zholim adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, misal gelas yang biasa dipakai untuk minum lalu anda untuk mencuci tangan, maka itu zholim”. Mudah-mudahan definisi itu tidak berlaku bagi yang sedang mengejar deadline harian untuk sebuah pembiasaan baik.

23.34
Akhirnya jalanan sempurna sunyi dari suara-suara yang membuat telinga terus bekerja. Dentang jam di dinding dengan pongahnya menguasai keadaan. Lantunan detik demi detiknya seperti memberi tahu bahwa ia lah yang terus hidup tanpa lelah. Kejadian demi kejadian siang tadi akhirnya melintas saat kantuk mulai menguat. Hari ini terlalu melelahkan, banyak waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan. Katanya demi loyalitas. Tapi yang dirasa entahlah. Nurani sedikit berontak dengan itu. Pekerjaan adalah ibadah bukan? Tapi jika ia menuntut bahkan lebih dari separuh waktumu, lalu bagaimanakah waktu dengan Rabbmu? “Jangan terlalu sibuk dengan duniamu, hingga lupa buat kamu diciptakan.” Kata-kata terus terngiang menjadi penghantar tidur kali ini.

23.48
Sebait doa sebelum meta terpejam. Semoga Allah gerakkan hati kita agar terbangun di sepertiga malamnya. Merasakan nikmat yang tidak setiap orang bisa merasakannya. Seperti yang Allah katakan dalam QS Muzammil ayat 2, “Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil.” Hanya orang-orang pilihan, berharap kita salah satunya.


https://harumn01.files.wordpress.com/2012/10/evaluasi-diri.jpg?w=301&h=181

Kamis, 22 Februari 2018

Tulisan Gaje

Hujan semalam menyisakan sendu yang cukup berarti pagi ini. Aku akhirnya punya hutang tulisan akibat pikiran yang tidak bisa diajak kerja sama. Kulihat di grup, sepertinya hanya aku yang belum setor tulisan untuk hari itu. Lagi-lagi galau menghadapi kenyataan pahit bercampur sedih itu. Ditengah kemelut yang tak burujung, kuputuskan untuk membaca buku yang belakangan ini cukup digandrungi kawula muda. Dengan tujuan agar ada ide yang sudi mampir ke kediamanku. Cukup lama ku terpaku dengan bacaan itu sampai akhirnya tersadar bahwa belum ada sesuatu yang singgah ke benakku. Ah, ini adalah bagian yang menyebalkan selain si Weni (teman kamar sebelah) yang suka motong antrian mandi

Selasa, 20 Februari 2018

Move On

Untuk masa-masa yang telah lalu, ada banyak kenangan yang datang bertalu-talu. Menjelma dalam sebait kata bernama rindu. Walau berat tapi katamu aku akan mampu. Terbersit hasrat untuk bertemu walau dipisah jarak dan waktu.

Untuk masa-masa yang telah terlewati, ada keinginan untuk mengulang kembali apa yang dulu pernah dijejaki. Enggan beranjak dari kenyamanan hati yang walau pernah disakiti tapi tidak ada hasrat untuk membenci. Islam itu murni, begitu yang kupahami. Sayang, waktu tidak pernah menunggu barang sehari. Ia terus merangkak maju dan pada akhirnya memisahkan insan-insan yang saling melengkapi.

Senin, 19 Februari 2018

Teman Dunia Maya itu Nyata

Salah satu keuntungan bergabung dalam suatu komunitas adalah kenal dengan teman-teman dari berbagai belahan pulau. Meski tidak bertemu secara fisik, kita seperti sudah saling mengenal. Tentang kebiasaan, hobi dan berbagai aktivitasnya. Dan kabar baik berikutnya adalah kalian bisa saling tatap muka bahkan bukan tidak mungkin salah satu dari mereka akan menjadi separuh hidup kalian kelak.

Saya pertama kali mendapati kabar baik itu pada Jumat lalu, salah seorang teman dalam komunitas Indonesia Membaca berkunjung ke negeri yang dikenal dengan Seribu Rumah Gadang yaitu Sumatera Barat. Namanya Mba V, begitu kami sering memanggilnya. Dia adalah anak Jakarta yang dikenal suka membaca dan juga nonton. Awal perkenalan kami adalah karena sama-sama tergabung dikomunitas itu. Lalu berlanjut ke pertemanan diberbagai media sosial. Sepanjang pengetahuan saya V ini anaknya asyik, luwes dan bisa bergaul dengan siapa saja. Kekinian banget lah.

Curhatan Penulis Amatir


Memasuki pekan keempat bergabung diODOP (One Day One Post) sebetulnya saya mulai tidak percaya diri. Banyak tulisan yang hanya asal-asalan demi terpenuhinya tugas hari itu. Berat, sungguh. Sempat berfikir untuk menyerah, namun batin lagi-lagi menguatkan diri untuk bagaimana bertahan hingga akhir. Konsekuensi dari itu semua adalah, saya harus mengorbankan sedikit waktu istirahat agar dapat merampungkan sebuah tulisan. Jika itu bisa disebut tulisan.

Ada beberapa hal yang sebenarnya menjadi kendala kenapa tulisan saya sering ngestag di tengah jalan. Dan ini pernah diulas disalah satu grup kepenulisan juga, dimentori oleh seorang penulis kece, Jee Luvina. Saya hanya mangut-mangut untuk kemudian masih menemui kendala itu sampai hari ini.