Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

Takdir Terbaik (Episode 1)

DI SUDUT SEBUAH RUKO

Padang sedang berangkat menghampiri malam. Pelan-pelan cahaya jingga meredup diujung langit. Membawa gelap ke seluruh penjuru ibukota. Cahaya yang menggantung selama dua belas jam mulai digantikan lampu jalanan yang hidup satu persatu. Di salah satu sudut ruko yang mulai gelap tampak seorang lelaki remaja yang berkali-kali mengeluarkan bongkahan asap dari mulut yang sengaja dimonyongkan agar asap yang terkepul tampak menarik. Tergeletak beberapa puntung rokok di samping kiri tempat ia tengah bersandar, entah sudah berapa jam dia duduk disana.

Cahaya dari lampu mobil yang berkali-kali lalu lalang menegaskan bahwa dia bukanlah seorang anak jalanan. Wajahnya bersih hanya ada sedikit kumal dan itu tidak terlalu mencolok. Potongan rambutnya rapi dibelah kiri, seperti dipakaikan minyak rambut sebelum keluar rumah. Jaket denim yang membungkus tubuhnya jauh dari kata lusuh. Jam tangan trendy yang sedang dipakai semakin memperkuat dugaan bahwa dia memang bukan anak jalanan.

Kamis, 15 Februari 2018

Sebuah Kisah (3)


Aku tau dia tidak sedang berpura-pura. Perasaannya nyata begitu adanya. Dia menghela nafas, kemudian melanjutkan kata-kata yang sepertinya sudah disiapkan untukku.

“Mas ingin aku bahagia, kan. Hanya satu cara, tolong ikuti mauku, Mas?” Katanya ringkas masih dengan air mata berlinang.

“Dek, jangan kekanak-kanakan. Jika kita saling mencintai, lantas kenapa ada kata cerai? Sejak ikrar menghalalkanmu dihadapan ayah dan pak penghulu Mas ucapkan, ada amanah besar setelahnya yang mesti kujaga, yaitu kamu. Tolong jangan sembunyikan apapun dariku dek, apa masalahmu tolong jelaskan padaku?” Aku beranjak menuju matanya menatap.

Air matanya mengalir memenuhi pipi tirusnya. Belakangan terlihat dia makin kurus, katanya diet dari makan ini itu. Kucoba tepis dengan tanganku, lagi-lagi dia mengelak.

Sabtu, 10 Februari 2018

Sebuah Kisah (2)

Dia balas menatap mataku yang sejak tadi memandanginya. Belum ada jawaban dari pertanyaan yang kulontarkan. Entah apa maksud dari tatapan matanya. Tidak ada gerakan anggota tubuh yang lain. Hanya pandangan itu yang lurus menatapku tanpa kedipan.

“Kamu kenapa, Dek?”. Akhirnya suaraku normal kembali setelah berkecamuk dengan batin sejak mendengar penuturannya pertama kali.

“Aku ingin kamu bahagia, Mas”. Jawabnya singkat. Matanya mulai tampak kemerah-merahan seperti menahan tangis agar tidak luruh membasuh wajah cantiknya. Nyanyian yang tengah mengalun tidak lagi terasa enak didengar. Aku semakin bingung. Kurang bahagia apa aku selama ini. Dia bahkan teramat tahu bahwa aku begitu mencintainya.

Jumat, 02 Februari 2018

Sebuah Kisah (1)

Kali ini mulutku seperti terkunci. Sebenarnya begitu banyak pertanyaan yang berputar mengitari kepalaku pasca sambungan suara semalam yang terputus begitu saja setelah dia emosi lalu menangis tanpa bisa kucegah. Aku seperti seorang tersangka yang diinterogasi di ruangan tertutup oleh sang polisi, dipaksa mengaku untuk suatu hal yang tak pernah ku lakukan. Terus bertanya dengan pertanyaan yang sama, dia tidak peduli walau mulutku ini capek berkali-kali mengucap hal yang sama, bahwa aku jujur tidak seperti yang dikatakan. Andai kami berada pada suatu tempat yang sama, seperti sang polisi dan tersangka tentu dia akan melakukan hal yang sama seperti yang sering dilakukan polisi. Menampar. Syukurnya dinas luar kota kali ini menyelematkanku dari peristiwa dahsyat itu. Esok? Entahlah, menikmati sisa hari dengan sunset yang makin membunuh dirinya adalah cara terbaik untuk sejenak melupakan masalah.