Kamis, 07 Januari 2016

Ketika Iman Tergadaikan

Fenomena tak berkesudahan yang kerap kita saksikan dalam rentang waktu tertentu, menjadikan tanya dan harap pada diri kian membesar. Akankah diri sanggup jika diuji dengan yang semisal dengannya? Harta, tahta, wanita selalu menjadi trending topic yang pada akhirnya menjadi muara dari segala kesibukan yang menghabiskan waktu sebagian besar manusia. Lantas mengapa sebagian yang lain sibuk mengkritisi tanpa solusi daripada membisik berdoa agar Allah menjaga diri dan saudara seiman dari segala fitnah yang mungkin akan bermunculan.

Sufyan bin Abdillah Ats Tsaqafi berkata, “ Wahai Rasulullah SAW, katakanlah suatu perkataan kepadaku tentang islam sehingga aku tidak perlu lagi bertanya kepada siapapun selain engkau.” Berliau bersabda, “katakan aku beriman kepada Allah SWT, lalu istiqomahlah.” (HR Ahmad )
Tentang Istiqomah, Al Qurthubi menyatakan bahwa ayat istiqomah (QS Hud : 112) telah membuat rambut Nabi Muhammad SAW beruban. Diceritakan bahwa Abi Ali Asy-Syanawi mengaku pernah melihat Rasulullah SAW dalam mimpi. Dia kemudian bertanya, “Wahai Rasululullah SAW, ada sebuah riwayat darimu bahwa engku pernah berktata, surat Hud telah membuat kepala beruban.” Beliau menjawab, “Benar,” Asy Syawani bertanya kembali, “Ayat apakah yang membuat rambutmu beruban, apakah ayat yang menceritakan tentang kisah-kisah para Nabi atau kehancuran umat terdahulu?” Beliau bersabda, “ Tidak, tetapi disebabkan ayat yang berbunyi, Istiqomahlah kamu sebagaimana engkau telah diperintahkan (QS Hud:112).” 

Tersadar atau tidak, tiap fase kehidupan yang kita lewati menguji ketahanan komitmen kita terhadap diin ini. Satu persatu mulai bermunculan nama-nama yang dulu kita kenal baik sebagai pengusung dakwah, tak jarang pun kader militan dan kita kenal hari ini tak lebih dari sekedar teman-teman kebanyakan. Tak tampak lagi aktivitas dakwah dalam kesehariannya meski hanya dalam senda gurau dengan kawan sekantor. Jilbab yang dulu mengurai lebar kebawah dada, kini tak lebih dari sekedar untuk penutup rambut. Komitmen yang dulu dipegang erat tak kala kuliah, meluntur dengan sendirinya seiring tuntutan kerja yang tak mampu diseimbangi. Visi besar yang telah tertoreh entah masih berlaku hari ini atau tidak.

Tawaran kerja yang begitu menggiurkan, dengan gaji besar dan jenjang karir yang menjanjikan tak jarang membuat iman tergadaikan. Melunturkan segala komitmen yang dahulu dipegang erat. Syukur jika masih muncul rasa gelisah, pertanda Allah masih mendekap sanubarinya. Lalu jika masih abai, apa daya kita menjadikannya seperti semula sedang dirinya tak hendak kembali kepada Rabbnya. Hanya doa sebagai selemah-lemah iman yang mungkin bisa tetap diperjuangkan untuk saudara kita yang dulu membersamai kita dijalan dakwah ini.

Istiqomah satu-satunya kunci yang mesti dibawa sampai kapanpun, dia tidak segampang membalik telapak tangan namun cukup bila ada usaha  dan kemauan Allah akan berikan jalan padanya karena Allah sama sekali tak menyalahi janji. Kemudian istiqomah, tak pandang tentang siapa diri yang sedang ditungganginya. Ia hanya menjalankan titah dari Rabbnya menuju hamba pilihan, semoga kita salah satunya. Aamiin.


Senin, 07 Desember 2015

Aku baik-baik saja, Ibu.

Kesalku mungkin sudah tak terhitung jari seiring perhatian yang masih kau sematkan di usiaku yang sudah terhitung kepala dua. Masih saja kau cemaskan segala tetek bengek tentang kehidupanku. Masihkah belum cukup perhatianmu tertumpah tatkala aku masih kecil dulu? Sungguh ku kesal padamu, Ibu !. Harusnya aku! Biar aku saja! Yang memperlakukanmu dengan hal yang serupa bahkan lebih.

Tiga tahun lalu, malam itu saat dalam perjalanan menuju wisma kala itu Allah takdirkan kecelakaan naas itu untukku. Sambil tergopoh-gopoh berdiri ku dengar sekilas orang-orang di sekelilingku mengatakan tangan sebelah kiriku patah. Ku hibur diri sebisaku, “ini tidak patah, hanya keseleo saja”meski tanganku kiriku bergetar hebat dan sakit yang tak karuan diikuti dingin yang menyelusup begitu luar biasa, sambil sesekali kuseka air mata yang mulai menggenang dipelupuk mata. Kulihat teman-teman dekatku begitu antusias membantuku, mengurus segala keperluanku hingga mengantarku ke tukang urut yang direkomendasikan orang-orang disana. Itu baru temanku, apatah engkau Ibu.

Senin, 21 September 2015

Manusia wajib, sunah, mubah, makruh, haram. Kita yang mana?

Manusia Wajib, Sunah, Mubah, Makruh dan Haram. Saya termasuk yg mana?

“Khairunnas anfa’uhum linnas” “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yg paling banyak manfaat bagi orang lain.” Rasulullah SAW.

Kebutuhan kita sebagai makhluk sosial telah menempatkan kita pada beragam kondisi. Entah itu di suka, di benci, di musuhi, di sahabati, di gurui, atau sebaliknya membenci, memusuhi, mensahabati, menggurui dan sebagainya. Sewaktu-waktu kita bisa pada posisi salah satunya atau salah duanya. Wajar, karna jaminan tentang berbolak-baliknya hati seorang anak cucu Adam hanya hak prerogatif Allah semata. Namun, disebalik renteten peristiwa yang kita alami dan perbuat di keseharian, mesti nya kita sudah menggenggam jawaban diri, termasuk ke bagian yang manakah kita ini.

Manusia wajib, dia yang kehadirannya selalu di rindukan. Setiap apa yang diperbuatnya, orang lain merasakan kebahagiaan karenanya. Bisa jadi karena ilmunya, hartanya, prilakunya, akhlaknya atau korelasi kesemuanya sehingga menjadikan orang lain mendapatkan kebermanfaatan karenanya. Lalu ketiadaannya menjadikan orang-orang disekitarnya merasakan kehilangan. Sebab mereka yang telah tercuri hatinya merasakan ada rongga yang kosong tatkala ketiadaan manusia wajib ini. Ini dia manusia wajib, jika kita mentadabburi Al-Qur'an, kita akan mendapatkan sebuah ayat yang menjadi permisalan bagi eksistensi sesuatu yang ditentukan oleh kemanfaatannya bagi manusia. Allah SWT berfirman "..Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi..." [QS. Ar-Ra'd : 17]

Manusia Sunah, orang tipe ini juga di cintai karena kehadirannya membawa manfaat bagi sekitarnya namun kealfaannya tiada menyebabkan orang lain merasa kehilangan. Orang lain senang jika dia hadir suatu ketika namun kepergiaannya tak menyebabkan kekosongan di hati mereka yang telah dibersamainya.

Manusia Mubah. Ada tidak ada, dia tidak membawa pengaruh apa-apa. Kehadirannya seolah-olah seperti angin lalu saja, tidak membawa manfaat namun juga tidak menghadirkan mudharat. Biasa saja.

Manusia makruh. Jikalau bisa, orang lain tidak mengharapkan keberadaaannya. Karena tak ada manfaat darinya namun kadangkala kehadirannya membuat orang lain merasa bosan, tak nyaman dan sebagainya. Inilah tipe manusia yang kalau seandainya orang lain bisa memilih keberadaaannya tentu tidak di harapkan.

Manusia haram. Inilah kebalikan dari manusia wajib.Ketiadaannya akan sangat di syukuri. Karena orang lain akan merasa aman tanpanya. Jika dia ada, kehadirannya hanya sebagai benalu. Membawa musibah dan petaka bagi siapa saja yang berinteraksi dengannya. Maka sangat wajar jika pada akhirnya orang-orang terus menghindar darinya.

kemudian kita masuk ke golongan yang mana?
Mari mulai instropeksi diri, keberadaan kita sebagai makhluk sosial membuat interaksi dengan sesama akan berlangsung untuk seterusnya maka penilaian itu kadangkala kita butuhkan dari mereka yang dengannya kita berinteraksi. Menjadi manusia wajib atau manusia haram (na’udzhubillah) sekalipun, itu pilihan. Bagaimana kita dengan orang lain, seperti apa sikap dan lisan ini. Segalanya tergambar sudah. Dan penilaian itu bukan tentang seberapa bagus kita, tapi seberapa bermanfaatnya kita. Walllahu alam.


maka, buatlah kesan baik di setiap hadirmu

Rabu, 16 September 2015

Semangat ini

Blublubluub
Ah entahlah apa yg mau ku tulis. Tetap ku paksakan diri tiap hari begini. Menyendiri di markas ini, dikawani pulpen dan secarik kertas. Menerawang kian kemari, mencari inspirasi yg entah dimana bersembunyi.

Sehari, dua hari, terus berhari-hari masih saja seperti ini. Memburu sang inspirasi yg masih enggan menghampiri. Bosan? Tidak. Tapi greget pasti. Meski pertanyaan nyeleneh terhadap diri kerap menghampiri.  Biar. Tak akan ku ladeni. Karena bagiku usaha ini adalah harga mati. #halah

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Rabbi, kerapkali ku iri sm hambaMu yg kau lebihkan sesuatunya. Termasuk menulis ini. Betapa sang inspirasi begitu mudah didekati. Seperti kawan sejati yg setia menemani. Tulisannya sarat makna, lantunan kata-katanya indah dan penuh arti.

Lagi kusadari kekurangan diri. Menulis bukanlah bakat yg terpendam sejak dini. Tapi niatku sudah pasti,takkan berbalik lagi. Karna satu hal yg kupahami sejauh ini, dengannya ku belajar lebih baik, lebih banyak dan waktuku lebih terisi utk semngat tholubul 'ilmi.

Bismillah, aku pasti bisa. Jika tidak hari ini. Pasti suatu saat nnti. Aamiin



Selasa, 15 September 2015

Kita dan Ukhuwah ini

Untukmu, yang sedang Allah uji dengan renggangnya ukhuwah. 
Untukmu, yang merasa pertemuan bagai bara. 
Untukmu, yang merasa senyuman tak lagi bermakna. 
Bersabarlah ! 
jangan bermuram durja !

Ia hanya butuh waktu untuk kembali menghangatkan setiap pertemuan, 
merindukan setiap tatapan, 
mengharapkan seulas senyuman. 
Bersabarlah ! 

Esok ketika kau temukan celah itu ada, rengkul kembali saudarimu. 
Erat. 
Bahkan melebihi waktu dimana saat kau membersamainya dulu. 
Semoga penyekat itu lenyap sesudahnya. 
Pergi. 
Yang tinggal hanya kita dan ukhuwah ini.


@sudut kantor Yayasan Wakaf Ar Risalah