Selasa, 23 Januari 2018

Generasi 90-an


Sesuatu yang telah tertinggal terlalu lama akan sangat mengasyikkan untuk di ulas kembali dalam masa yang berbeda. Begitu yang ku dapati siang kemaren. Menu makan siang waktu itu, “belut goreng” berhasil membuat kami cekikikan tiap kali salah seorang dari kita mulai bercerita tentang masa kecilnya. Kami adalah generasi 90an, jika kalian merasa segenerasi, boleh ikut koment dibawah keseruan-keseruan kalian yang tak kami dapati. Seru parah ! LOL

Berikut kenangan-kenangan kami yang tertinggal di tahun 90an yang tidak pernah kami temui di kids jaman now
  • Tangkap Belut

Senin, 22 Januari 2018

Tentang Masa Terbaik dalam Hidupku

Semangat pagi !

Mendung sepertinya tak ingin bertahan lebih lama pagi ini, meski masih malu-malu kuyakin mentari akan sempurna menampakkann wujudnya walau barangkali butuh jeda. Aku dengan pagi yang kesekian kalinya masih berkutat dengan hal itu-itu saja. Ya, kerjaanku memang gitu-gitu aja sih. Haha..gaje. Ya seenggaknya ada yang membuatnya berbeda, hari ini kali pertama aku akan menyelesaikan challenge yang diberikan di grup ODOP. Yang menjadi awal bagiku untuk konsisten menulis meski harus membunuh ketidakyakinan dalam diri tentang passion yang sama sekali tak kumiliki. Semoga.

Kenalkan namaku Paramudika Handayani, panggilan sedari kecil hingga kini adalah Dika. Tentang nama panggilanku, banyak yang meragukan jika aku adalah seorang cewek. Di beberapa kesempatan dalam acara baik offline maupun online, jika aku tak menampakkan wujudku atau memberi tahu dengan sungguh-sungguh bahwa aku adalah seorang cewek maka tak ayal aku akan dipanggil bang. Begitu setidaknya arti sebuah nama.

Sabtu, 20 Januari 2018

Catatan Diri

Ada lamun yang disengaja saat raga lelah bekerja seharian

Sibuk tak menentu, duduk sendirian entah apa yang dikerjakan,
bertemu si A, mengobrol dengan si B, beragam hal lain dilakukan

sampai raga meminta haknya untuk direbahkan

banyak yg berhasil menjadi catatan d buku kenangan

baik, buruk, semua tersimpan di ingatan

Seketika raga tersentak dari lamunnya yang terlalu lama

Seberapa banyak dosa yang dihasilkan saat bercengkrama?

Berapa banyak hati yang tergores karena kata yang tak dijaga?

Berapa banyak waktu terbuang percuma karena gadget yg menyita?

Semua tanya seperti memojokkan, lidah seketika kelu untuk sekedar membela

Diri murni seperti seorang tersangka

Berada dihadapan hakim yang meraja

Esok yang masih entah

Berharap ada kebaikan yang bisa di alirkan walau secercah

Paling tidak diri ini bisa berbenah

Tidak mengulang segala yang bejat dan sia-sia

Semoga


#catatandiri

Jumat, 19 Januari 2018

Kita pasti memililih !


Kita selalu dihadapkan pada dua pilihan yang berseberangan

Ketika diberi ujian, ada pilihan untuk bersabar atau tidak. Keduanya sama, tidak akan mengubah keadaan. Tapi yang bersabar ada nilai pahala di sisi Allah. Sementara yang satunya lagi tidak.

Ketika menunggu kita pun akan dihadapkan pada pilihan. Memilih mengoceh tanpa arah karena bosan yang mendera atau mengisi dengan hal bermaanfaat semisal membaca buku atau tilawah. Keduanya pun sama, tidak akan mengubah keadaan. Akan tetapi ada nilai yang berbeda jika kita bijak memilih diantara pilihan yg ada.

Ketika datang waktu sholat, ada yg bergegas, ada yang masih sibuk dengan urusannya dengan pembenaran-pembenaran yang diciptakan utk dirinya sendiri,

Selasa, 09 Januari 2018

Be Aware (!)

Dengan merebaknya informasi yang gampang diakses dimana saja dan kapan saja. Penipuan pun akan semakin gencar berkeliaran. Coba saja tanya ke orang-orang terdekat kita, keluarga, teman atau tetangga, rata-rata sudah pernah jadi calon korban penipuan bahkan sudah ada yang menjadi korban. Dan kasusnya tak beda jauh. Rata-rata penipu menggunakan modus yang sama. Sialnya masih banyak korban yang termakan dengan modus-modus yang digencarkan.

Salah satu modusnya adalah dengan panggilan telepon, kita dinobatkan sebagai pemenang dari undian produk A misalnya. Untuk pengiriman hadiah kita diminta ke ATM kemudian mengikuti semua instruksi yang diperintahkan olehnya. Sederhana, calon korban yang hatinya lunak dan gampang tergiur takkan butuh lama untuk kena jebakannya.

Kamis, 14 September 2017

Bagaimana hatinya bekerja?


Pernahkah kamu melihat seseorang dengan ujian yang terus melanda namun tetap tegar seolah tidak terjadi apa-apa? Pernah bukan? Jika belum pernah, mudah-mudahan suatu saat nanti kamu akan menemukannya. Tipe orang seperti ini memang tidak mudah ditemui, ia seperti mutiara di kedalaman laut tak terkira. 

Suatu ketika aku pernah menemukannya disini. Dengan kondisi yang ku yakin Allah ingin aku belajar dengannya kali ini. Ujian yang terus berdatangan tidak pernah membuatnya kenapa-napa. Aku tak tau bagaimana hatinya bekerja. Selama dengannya, aku tau beragam ujian yang Allah singgahkan di kehidupannya. Sangat berat, jika itu untukku. Namun baginya tidak, ia terus melangkah dengan senyum khas yang dimilikinya. Paras teduh dan lembut tuturnya membuatku semakin yakin bahwa dia memang berbeda.

Selasa, 28 Februari 2017

Dia

Dia, yang membuat hari-hariku belakangan ini mulai dibebani banyak pikiran. Aku memang tak terlalu jauh mengenalnya, bertemu cuma sekali seminggu itupun kalau aku sedang tak berhalangan. Memikirkannya juga kerap kulakukan sebelumnya, namun sekarang entisitasnya kurasa mulai sedikit berlebihan. Tepatnya pasca kejadian sabtu lalu, aku jadi banyak menerka beragam hal. Tak seharusnya memang, namun ini diluar kuasaku meski ku tepis berkali-kali pikiran itu tetap muncul kembali.

Dia, ditiap pertemuan yang tak sempat kutanyai banyak hal meski ku ingin. Selalu tampil apa adanya dan tak sekalipun mangkir dari janji pertemuan kita. Sikapnya yang begitu jauh dari prediksiku agaknya membuat dia menjadi sedikit prioritas bagiku. Dia, memang pantas untuk dipikirkan lebih tepatnya di doakan.

Ibunya, yang ku tau bercadar itu sedang hamil muda menyisakan dia yang mau atau tidak harus membantu ibunya mengurus adik-adik kecilnya bahkan membawanya ke pertemuan kita. Aku tak mengapa, toh kehadiran adiknya juga tak mengganggu sesiapa. Namun, saat dia menghampiri sesaat ku akan pulang sabtu lalu sambil berkata "kak, ada punya uang 10 ribu?" Ku tanya balik, "untuk apa uangnya?". "Buat beli telur kak", jawabnya. Dalam hati ku pikir, dia mau merayakan ulang tahun temannya. Maklum kondisi itu masih berlaku dikalangan anak-anak bahkan sedewasaku ini. "Telurnya buat apa?", kutanya dulu memastikan perkiraanku. "Buat dimasak kak, adik-adik Felsi sedari pagi belum makan". Kutahan diri untuk bertanya lebih. Ayahnya yang katanya melaut itu belum pulang. Entahlah berapa hari, aku tak sanggup menanyai banyak hal lagi. Segera ku rogoh saku, dan alhamdulillah ada uang yang terselip yang biasanya kadang aku tak bawa. Berikutnya ku tawari mengantarkannya pulang, walau dia awalnya enggan dengan alasan rumahnya nggak jauh. Dengan bujukan berikutnya akhirnya dia luluh juga. Sejak itu, ada yang berbeda dengan rasaku. Bagaimana mengatakannya, aku juga tak paham pun dengan apa yang ku rasa.

Dia, selalu terlihat kuat meski tak makan sedari pagi. Selalu bersemangat di tiap pertemuan itu walau jajanan temannya terasa menyiksa baginya. Ingin seperti mereka tapi apa daya, sepeser pun tak ada uang jajannya. Entahlah sebelum tau tentang semua ini, dia memang telah istimewa bagiku.

Dia, Felsiku