Dentang jam di dinding
menunjukkan pukul 09.05. Pagi merangkak pergi perlahan. Sendu yang dihadirkan seperti
memaksa menunda kedatangan mentari yang ingin menyapa. Langit tidak terlalu
gelap, namun semilir angin yang dihadirkan seperti mengajak hujan agar menemaninya.
8 menit berselang, genteng mulai
terdengar berirama. Agaknya hujan mempercepat kedatangannya kali ini. Meleset dari
perkiraanku yang semula kutaksir 30 menit lagi.
Pagi yang sendu dikawani hujan. Ah, pagi ini sempurna dengan balutan selimut dan sekeping buku di tangan. Sungguh syahdu, sayangnya kondisi itu hanya ada di anganku. Realita membawaku pada situasi yang membuatku malas pagi ini. Kerja, kerja dan kerja.
Pagi yang sendu dikawani hujan. Ah, pagi ini sempurna dengan balutan selimut dan sekeping buku di tangan. Sungguh syahdu, sayangnya kondisi itu hanya ada di anganku. Realita membawaku pada situasi yang membuatku malas pagi ini. Kerja, kerja dan kerja.






